Arsitek Bagi Manusia

Setiap manusia adalah arsitek dari masa depannya sendiri –Sallust

Keep Moving Forward

Jangan terlalu bergantung pada orang lain. faktanya kamu lebih kuat dari apa yg kamu pikirkan, hanya kamu tidak mempercayainya

Rendah Hati

Instropeksi terhadap diri sendiri itu memang perlu, tapi tak harus menyalahkan diri sendiri,maafkanlah diri sendiri dan merubahnya untuk menjadi lebih baik

Rendah Hati, bukan Rendah Diri

Jangan jadi orang yang congkak. Pastikanlah bahwa kepala Anda tidak lebih tinggi dari topi Anda.

Kesuksesan Ada Ditangan Saya

Meter demi meter kesuksesan itu sulit, tetapi senti demi senti kesuksesan itu dapat diraih dan sangat mudah :D

Selasa, 21 Mei 2013

Tips Desain Ruang Tamu Minimalis yang Sempurna

Berbicara mengenai desain ruang tamu minimalis yang sempurna, Anda bisa mendesainnya dengan mudah menggunakan perpaduan antara imajinasi Anda dan inspirasi desain di bawah ini. Sebelum kita memulainya, mari kita cari tahu lebih dulu, apa sih desain minimalis itu? Seperti namanya, desain minimalis merupakan suatu desain yang memanfaatkan dimensi ruangan sehemat mungkin. Artinya, untuk menata ruang dengan desain ini, Anda perlu memikirkan secara matang benda-benda apa saja yang akan menempati ruangan. Misalnya untuk memilih meja yang akan digunakan tidak perlu sebesar meja makan, tetapi cukup meja yang bisa menampung kopi dan beberapa cemilan ringan sebagai hidangan untuk tamu. Jadi meja berukuran besar tidak terlalu penting di ruangan ini.
Untuk benda-benda lainnya, Anda bisa menyesuaikannya menurut kebutuhan dan selera pribadi. Anda bisa saja meletakkan rak buku sebagai aksen utama, TV Plasma yang canggih, atau mungkin sebatang tanaman berbunga indah. Itulah kenapa dalam memilih furnitur untuk ruang minimalis, sebaiknya yang memiliki bentuk sederhana sehingga tidak akan merusak nilai minimalis meski ukurannya cukup besar. Nilai kesederhanan inilah yang penting untuk dipertahankan dalam ruangan minimalis. Gunakan selera Anda agar furnitur yang dipilih masih bisa mengangkat nilai elegan dan estetika ruang tamu. Hal lain yang tak kalah penting dalam mendesain ruangan bergaya minimalis adalah pemilihan warna. Gunakan warna cukup satu, dua, atau kombinasi warna senada sebagai penghias ruangan. Hindari menggunakan motif hewan atau bentuk benda yang berbeda-beda.
Biasanya ruang tamu bergaya minimalis juga memasukkan unsur teknologi mutakhir di dalamnya. Seperti TV tipis berukuran besar, furnitur bergaya modern, serta beberapa hiasan modern yang terlihat sederhana, contohnya tempat lilin. Meja kaca dan kursi futuristik juga sangat bagus digunakan di ruangan ini. Adapun untuk warna aksesoris yang sesuai yaitu hitam, putih, abu-abu, dan kombinasi dari salah satu warna ini dengan warna hangat (merah, pink, dan jingga).
Di bawah ini merupakan salah satu contoh bagaimana langkah-langkah menata ruang tamu berdesain minimalis :
  1. Pilih furnitur yang berbentuk sederhana termasuk kursi dan meja. Anda bisa memilih furnitur yang sudah banyak tersedia di pasaran maupun membuatnya dengan desain sendiri (build-in).
  2. Apabila memilih sofa daripada kursi kayu, pilih sofa dengan desain yang simple. Pilih set sofa yang terdiri dari empat buah kursi maupun set sofa yang membentuk huruf L dengan salah satunya berukuran lebih panjang.
  3. Untuk meja tamu, Anda bisa menggunakan tema klasik dengan bentuk kubus tanpa ornamen. Biasanya terbuat dari bahan kayu jati. Agar terlihat lebih mewah, ganti bagian atas meja dengan kaca, akrilik, atau logam.
  4. Tempatkan karpet bergaya modern untuk menutupi lantai dan biarkan dinding tetap bersih tanpa hiasan yang berwarna-warni.
  5. Gunakan cat dinding berwarna netral
  6. Pilih lampu dan kap lampu sederhana. Apabila Anda menginginkan hiasan di lampu, gunakan keramik polos, kuningan, atau besi yang ditempa.
  7. Usahakan cahaya lampu bisa menyinari seluruh ruangan. Boleh juga menempatkan lilin di salah satu dinding untuk memberikan efek cahaya yang romantis.
  8. Pasang gorden tipis berwarna terang di jendela ruangan. Opsi lainnya bisa dengan membiarkan jendela cermin tetap kosong tanpa gorden dan besi.
 sourch : arafuru.com

Tips Mendesain Kolam Ikan Sendiri


Berikut ini saya akan menyajikan tips membuat kolam ikan mungil yang indah berikut ini. Memelihara ikan di rumah memang menyenangkan. Selain memperkaya suasana rumah, adanya ikan juga akan menyegarkan kembali pikiran yang sudah digunakan seharian.
Bagi kebanyakan orang, memelihara ikan di akuarium bisa menjadi alternatif untuk lahan rumah yang sempit. Akuarium dirasa sudah cukup untuk memberikan suasana lain di dalam rumah. Nah, untuk yang ingin tampil berbeda bisa membuat kolam ikan sendiri. Tapi apakah mungkin membuat kolam ikan di lahan yang sekecil ini? Ikuti kiat-kiat cara membuat kolam ikan di rumah mungil :
1. Pemilihan lokasi
Untuk membuat kolam ikan yang sempurna, pilihlah sudut rumah favorit Anda. Bisa di halaman depan atau bagian belakang rumah. Apabila samping rumah masih tersedia tanah yang cukup, Anda pun bisa menggunakannya. Pemilihan sudut favorit ini dimaksudkan agar Anda merasa nyaman ketika duduk bercengkrama dengan ikan-ikan.
2. Bentuk kolam
Ada beberapa bentuk kolam ikan yang populer saat ini. Sebagai contoh kolam berbentuk persegi, persegi panjang, lingkaran, atau tak beraturan. Untuk rumah mungil kebanyakan menggunakan bentuk kolam persegi agar bisa menyatu dengan konsep desain yang diterapkan. Apabila Anda ingin membuat kolam ikan dengan
bentuk yang lain, bisa dengan menambahkan beberapa tanaman hias.
3. Ukuran proporsonal
Dalam membuat kolam ikan di lahan yang sedikit, sebaiknya memperhatikan antara ukuran kolam dengan lingkungan sekitarnya. Jangan terlalu besar ataupun terlalu kecil. Apabila ukuran kolam ikan terlalu besar, akan menimbulkan suatu ketidakseimbangan dengan sekitarnya. Begitupun dengan ukuran kolam ikan yang terlalu kecil.
4. Sirkulasi air
Sebagaimana umumnya kolam ikan, kebersihan air tetap harus dijaga agar ikan-ikan hidup dengan sehat di dalamnya. Untuk menjaga kejernihan air kolam, Anda bisa melakukannya dengan teknik filterisasi. Jadi sisa air kolam akan dialirkan ke suatu bak untuk dijernihkan kembali, lalu mengalirkannya lagi menuju kolam ikan. Selain menggunakan teknik ini, Anda bisa menanam tumbuhan air sebagai filterisasi alami. Dengan teknik ini kualitas air kolam akan terus terjaga.
5. Batu alam
Jangan lupa untuk menambahkan bebatuan alam di dasar kolam ikan. Selain berfungsi sebagai pemanis kolam, penggunaan batu alam seperti zeolite dan andesit juga berfungsi untuk menyerap amonia dan nitrit yang ada di air kolam. Kedua zat ini berasal dari kotoran ikan dan akan menjadi racun apabila jumlahnya melampaui batas.
sourch : arafuru.com

Antara Arsitektur Modern dan Post Modern



ARSITEKTUR MODERN
Sepanjang sejarah manusia, Arsitektur hanya mengalami satu kali perubahan yang mendasar, yaitu di saat hadirnya Arsitektur Modern
. Sampai dengan masa Neo-klasik abad ke-19, Arsitektur dianggap sebagai pengetahuan kesenian, yaitu seni bangunan. Artinya Arsitektur dianggap sebagai suatu ‘olah rasa’ yang dibuat berdasarkan perasaan sebagai sumber idenya dan tidak ada rumusnya.
Merintis Modern
Di pertengahan abad ke-18, tahun 1750-an di Perancis, muncul orang-orang yang berambisi untuk menghasilkan Arsitektur dengan menggunakan akal dan idenya sebagai sumber idenya, bukan seni dengan perasaan.
Beberapa nama tersebut adalah :
  1. Boulle
  2. Blondel,
  3. Quatremere de Quincy
    (Tipologi misalnya, dimunculkan pertama kali pada abad ke-18 oleh Quatremere de Quincy.)
Bagi mereka ini, Arsitektur adalah olah pikir, bukan olah seni. Bagi dunia Arsitektur, apa yang dilakukan oleh orang-orang Perancis ini adalah sebuah reformasi, perubahan. tak ayal lagi, sejarah menobatkan orang-orang ini sebagai the first Modern
. Dengan demikian, dapat saj dikatakan bahwa Arsitektur Modern
ini sudah hadir pada abad ke-18 bukan abad ke-20. Tetapi, yang dimaksud Arsitektur Modern
bukan karya Arsitektur, bukan bangunan atau gedung tapi adalah ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang Arsitektur. Oleh sebab itu seringkali dikatakan bahwa pikiran-pikiran dasar/pokok mengenai Arsitektur Modern
telah dimunculkan di abad ke-18.
Pikiran-pikiran dasar yang baru tadi, baru mendapat kesempatan untuk direalisasikan pada pertengahan abad 19, karena beberapa hal :
1.  Di pertengahan abad 19 itu secara resmi pendidikan Arsitektur telah terbagi menjadi dua yaitu :
Ecole des Beaux Arts – yang mengajarkan Arsitektur sebagai kesenian
Ecole Polytechnique  – yang mengajarkan Arsitektur sebagai ilmu teknik sipil
2.  Munculnya industri bahan bangunan, yang mampu menghasilkan keseragaman ukuran dan kecepatan membangun. Kedua hal ini menjadi faktor yang sangat mendorong percepatan dari Arsitektur Modern
tersebut.
Tahun 1851 di Inggris, diselenggarakan sebuah Expo , dimana gedung utamanya adalah rancangan dari seorang ahli botani. Gedung tersebut dikenal sebagai “Crystal Palace” karya Joseph Paxton yang oleh sejarah Arsitektur dinyatakan sebagai karya Arsitektur Modern
yang pertama, karena dalam perwujudannya mampui memperlihatkan keberadan dari Arsitektur yang mendominasikan unsur space sebagai. Sebelumnya, form merupakan unsur utama perancangan Arsitektur
Eiffel Tower karya Gustav Eiffel, seorang insinyur sipil.
Kesimpulan:
Ide tahun 1750: ide tentang Arsitektur adalah ‘olah pikir’ dan bukan ‘olah rasa’
Ide tahun 1851: ide tebtang Arsitektur adalah permainan ‘ruang’ dan bukan ‘bentuk’
Modern
Periode 1890 – 1930
Mulai tahun 1890-an sampai dengan 1930-an, terjadi sejumlah pertentangan dalam dunia Arsitektur yang ditunjukkan melalui munculnya berbagai eksperimen yang dilekukan oleh perorangan maupun oleh kelompok, Eksperimen tersebut, kalau diungkapkan sebagai sebuah pertentangan akan dapat dikatakan sebagai berikut ini.
Arsitektur sebagai art vs Arsitektur sebagai science
Arsitektur sebagai form vs Arsitektur sebagai space
rsitektur sebagai craft vs Arsitektur sebagai assembly
Arsitektur sebagai karya manual vs Arsitektur sebagai karya machinal
Ya, Dibutuhkan 40 tahun untuk mengubah Arsitektur menjadi sekarang apa yang dikenal sebagai Arsitektur Modern
. Antara 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan: art and craft, art noveau, ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll.
Periode 40 tahun itu merupakan puncak sekaligus titik awal dari Arsitektur Modern
.
Periode 1950-1960an
Dalam sejarah Arsitektur, berakhirnya Perang Dunia II membawa perjalanan Arsitektur dapat dibaca dari dua sisi yang saling berlawanan yakni:
a.  Bagi mereka yang berpihak pada Teknologi dan Industrialisasi, tahun 1950-an dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern
b.  Bagi mereka yang menempatkan Arsitektur sebagai karya yang estetik dan artistik, tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern
Mengapa tahun 50-an dikatakan sebagai puncak Arsitektur Modern
(banyak dianut oleh pengikut Arsitektur merupakan kerja ilmu dan teknologi)?
a.  Karena tahun 50-an, segenap filosofi dan prinsip Arsitektur sebagai ilmu telah dapat diformulasikan dengan sempurna dari ide sampai dengan realisasinya: bangunan kotak dan geometris murni, Platonic solid, menjadi ekspresi yang pas bagi Arsitektur sebagai ilmu, karena dalam ilmu, yang disebut bentuk jikalau memenuhi aturan-aturan geometri, mis : lingkaran, bujursangkar, segitiga ( 2 matra/Dimensi ) dan bola, piramid, kubus ( 3 matra/Dimensi ).
b. Karya-karya Arsitektur mampu dan sangat sempurna untuk mengekspresikan space/ruang (ciri utama ruang adalah: ada tapi tidak dapat dilihat ) yang diwakili oleh kaca lebar dan bidang-bidang polos (Kaca adalah elemen ruang yang sangat tepat untuk mewakili ruang, karena kaca juga memiliki ciri `ada tapi tak terlihat’. Bidang polos pun dianggap sebagai pengekspresi ruang).
c.  Faktor lain yang mendukung Arsitektur Modern
pd tahun 50-an: Mass Production.
Dengan produksi massal bahan bangunan oleh pabrik, terjadi 2 akibat:
Kecepatan membangun, dlm waktu singkat dapat menghasilkan bangunan.
Hal ini penting karena pada tahun 1945, Eropa sudah hancur akibat Perang Dunia.
Bahan bangunan dapat menembus batas budaya dan geografis, sehingga Arsitektur menjadi Internasional dan bangunan-bangunan di dunia menjadi seragam.
Dengan kata lain, Arsitektur menjadi sangat demokratis.
Mengapa tahun 50-an dikatakan sebagai kegagalan/ kemerosotan Arsitektur Modern
(banyak dianut oleh pengikut Arsitektur merupakan kerja seni dan estetika)?
Karena Arsitektur telah kehilangan identitas/ ciri individual perancangnya. Tahun-tahun itu, nama yang dikenal orang adalah nama biro-biro Arsitektur, bukan arsiteknya.
Walaupun Arsitektur menjadi sangat demokratis, dalam masyarakat tidak bisa dihilangkan adanya hirarki atau kelas-kelas. Maka kata-kata demokratis itu sama saja bohong/ omong kosong.
Dengan maraknya produksi massal, pabrik-pabrik dapat menghasilkan bahan-bahan bangunan yang sejenis atau mirip, tapi dengan kualitas berbeda.
Dengan hilangnya batas dunia, mengakibatkan hilangnya privacy.
Contoh: diterapkannya open plan, yang berarti anti privacy.
Karena penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simpel, bidang-bidang kaca lebar. Ciri ini juga disebut nihilism yang berarti tidak ada apa-apanya kecuali geometri dan bahan. (Dengan demikian, siapa pun bisa menjadi arsitek. Tidak ada bedanya arsitek atau bukan. Kalau sudah begini, apa gunanya sekolah arsitek?)
Keseragaman bentuk yang geometris menyebabkan pemandangan yang disharmoni, tidak menyatu dengan lingkungan. Terutama di Eropa, di mana bentukan yang geometrik dianggap merusak dan memperburuk wajah lingkungan yang masih kental dengan wajah-wajah neoklasik/pramodern.
Sekitar tahun 1960, pertentangan antara kedua aliran itu (pro dan kontra 1950) terjadi lagi. Inti masalahnya adalah:
“Untuk siapa sebenarnya Arsitektur itu diciptakan?”
Maka tahun ini menjadi titik awal lahirnya Post-Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataannya: Less is Bore.
Contoh: Brutalisme, aliran yang dianut oleh Paul Rudolph (salah satu proyeknya di Surabaya adalah Gedung Dharmala, tapi belum boleh dikatakan sebagai bangunan yang brutalistik).
Ada satu unsur lain di tahun 60-an yang cukup berpengaruh dalam dunia Arsitektur namun baru diakui peranannya pada tahun 1990-an, yaitu: Mass Media. (media cetak, TV, film). Media massa menjadi bagian dari Arsitektur karena Media menjadi wadah bagi kebebasan individual, alat diskusi/ pertukaran dan penyebar-luasan ide. Media massa menjadi pemicu timbulnya Pluralisme atau Kemajemukan yang menjadi bahan dasar Post-Modernisme.
Perbedaan karakter Modernisme dan Post-Modernisme:
Modernisme                  : singular, seragam, tunggal
Post-Modernisme          : plural, beraneka-ragam, bhinneka 

ARSITEKTUR POSTMODERN
Pengertian postmodern :
  • Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis.
  • Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama.
  • Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari Arsitektur Modern tetap dipakai.
  • Merupakan pengulangan periode 1890-1930.
  • Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.
  • Tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Arsitektur Modern.
Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan.
Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll.  Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern.
Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan :
1.     Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern.
2.     Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.
Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang ‘untuk siapa arsitektur itu diciptakan?’. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme.
Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme :
      Modernisme : singular, seragam, tunggal.
      Post Modernisme : plural, beraneka ragam, bhinneka.
Sebuah Gambaran tentang Post Modern
Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern’ (modern sudah usai); `setelah modern’ (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern’ (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).
Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sub-langgam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.
1.       PURNA MODERN
a.       Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern’ yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)
b.       Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.
c.       Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.
d.       Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell.
2.       NEO MODERN
a.       Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah.
b.       Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction).  Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.
c.       Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.
d.       Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra).
e.       Tokohnya antara lain:  Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.
f.         Tampilan dominan bentuk geometri.
g.       Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.
3.       DEKONSTRUKSI
a.       Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.
b.       Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O’Gehry.
c.       Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.
Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.
1.       Tidak memakai semboyan Form Follows Function
Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.
Apa yang dikomunikasikan?
Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu :
PURNA MODERN : yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.
NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.
DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah
a.       Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.
b.       Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.
Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:
Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past),
Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan
Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi “Ini merupakan kesombongan dekonstruksi.”
2.       Fungsi ( bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)
Yang dimaksud dengan `fungsi’ di sini bukanlah `aktivitas’, bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur’ (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi’ yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi.
Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, ‘FUNGSI bukan AKTIVITAS’
Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu :
Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom),
Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,
Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan,
Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya,
Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal,
Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya.
Berdasarkan pokok pikiran ini, maka :
Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah  fungsi-fungsi metaforik (=simbolik) dan historikal.
NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan).
DEKONSTRUKSI menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.
3.       Bentuk dan Ruang
Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak.
Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.
Ciri pokok dari bentuk adalah ‘ada dan nyata/terlihat/teraba’, sedangkan ruang mempunyai ciri khas ‘ada dan tak-terlihat/tak-nyata’. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.
Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur :
Purna Modern bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang,
Neo Modern sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam
Dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.

Sabtu, 18 Mei 2013

Arsitektur Tropis

Arsitektur tropis merupakan arsitektur yang berada di daerah tropis dan telah beradaptasi dengan iklim tropis. Indonesia sebagai daerah beriklim tropis memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap bentuk bangunan rumah tinggal, dalam hal ini khususnya rumah tradisional. Kondisi iklim seperti temperatur udara, radiasi matahari, angin, kelembaban, serta curah hujan, mempengaruhi desain dari rumah-rumah tradisional. Masyarakat pada zaman dahulu dalam membangun rumahnya berusaha untuk menyesuaikan kondisi iklim yang ada guna mendapatkan desain rumah yang nyaman dan aman.
Di samping itu, arsitektur rumah tradisional sebagai ungkapan bentuk rumah tinggal karya manusia adalah merupakan salah satu unsur budaya yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan suatu masyarakat, suku atau bangsa yang unsur-unsur dasarnya tetap bertahan untuk kurun waktu yang lama dan tetap sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan suatu masyarakat, suku, atau bagsa yang bersangkutan. Oleh karena itu, arsitektur tradisional, pada khususnya arsitektur rumah tradisional, akan merupakan salah satu identitas sebagai pendukung kebudayaan masyarakat, suku, atau bangsa tersebut.

Konsep rumah tropis, pada dasarnya adalah adaptasi bangunan terhadap iklim tropis, dimana kondisi tropis membutuhkan penanganan khusus dalam desainnya. Pengaruh terutama dari kondisi suhu tinggi dan kelembaban tinggi, dimana pengaruhnya adalah pada tingkat kenyamanan berada dalam ruangan. Tingkat kenyamanan seperti tingkat sejuk udara dalam rumah, oleh aliran udara, adalah salah satu contoh aplikasi konsep rumah tropis. Meskipun konsep rumah tropis selalu dihubungkan dengan sebab akibat dan adaptasi bentuk (tipologi) bangunan terhadap iklim, banyak juga interpretasi konsep ini dalam tren yang berkembang dalam masyarakat; sebagai penggunaan material tertentu sebagai representasi dari kekayaan alam tropis, seperti kayu, batuan ekspos, dan material asli yang diekspos lainnya.
Kriteria Perencanaan pada Iklim Tropis Lembab
Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa factor- faktor spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga teori-teori arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan nilai-nilai estetika bangunan yang terbentuk akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada di wilayah lain yang berbeda kondisi iklimnya. Menurut DR. Ir. RM. Sugiyatmo, kondisi yang berpengaruh dalam perancangan bangunan pada iklim tropis lembab adalah, yaitu :
1. Kenyamanan Thermal
Usaha untuk mendapatkan kenyamanan thermal terutama adalah mengurangi perolehan panas, memberikan aliran udara yang cukup dan membawa panas keluar bangunan serta mencegah radiasi panas, baik radiasi langsung matahari maupun dari permukaan dalam yang panas.
Perolehan panas dapat dikurangi dengan menggunakan bahan atau material yang mempunyai tahan panas yang besar, sehingga laju aliran panas yang menembus bahan tersebut akan terhambat.Permukaan yang paling besar menerima panas adalah atap. Sedangkan bahan atap umumnya mempunyai tahanan panas dan kapasitas panas yang lebih kecil dari dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas agak sulit karena akan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan dapat diperbesar dengan beberapa cara, misalnya rongga langit-langit, penggunaan pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas.
Cara lain untuk memperkecil panas yang masuk antara lain yaitu :
1. Memperkecil luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat.
2. Melindungi dinding dengan alat peneduh. Perolehan panas dapat juga dikurangi dengan memperkecil penyerapan panas dari permukaan, terutama untuk permukaan atap.

Warna terang mempunyai penyerapan radiasi matahari yang kecil sedang warna gelap adalah sebaliknya. Penyerapan panas yang besar akan menyebabkan temperatur permukaan naik. Sehingga akan jauh lebih besar dari temperatur udara luar. Hal ini menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara kedua permukaan bahan, yang akan menyebabkan aliran panas yang besar.


2. Aliran Udara Melalui Bangunan
Kegunaan dari aliran udara atau ventilasi adalah :
1. Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk pernafasan, membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas dan bakteri serta menghilangkan bau.
2. Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas, membantu
mendinginkan bagian dalam bangunan.
Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan temperature antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi antara lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran udara dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil daripada yang diperlukan untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap yang selalu terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya digunakan lubang ventilasi yang bukaannya dapat diatur.
3. Radiasi Panas
Radiasi panas dapat terjadi oleh sinar matahari yang langsung masuk ke dalam bangunan dan dari permukaan yang lebih panas dari sekitarnya, untuk mencegah hal itu dapat digunakan alat-alat peneduh (Sun Shading Device).
Pancaran panas dari suatu permukaan akan memberikan ketidaknyamanan thermal bagi penghuni, jika beda temperatur udara melebihi 40C. hal ini sering kali terjadi pada permukaan bawah dari langit-langit atau permukaan bawah dari atap.
(Beberapa jenis shading device)
Penerangan Alami pada Siang Hari
Cahaya alam siang hari yang terdiri dari :
1. Cahaya matahari langsung.
2. Cahaya matahari difus
Di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya cahaya ini untuk penerangan siang hari di dalam bangunan. Tetapi untuk maksud ini, cahaya matahari langsung tidak dikehendaki masuk ke dalam bangunan karena akan menimbulkan pemanasan dan penyilauan, kecuali sinar matahari pada pagi hari. Sehingga yang perlu dimanfaatkan untuk penerangan adalah cahaya langit.
Untuk bangunan berlantai banyak, makin tinggi lantai bangunan makin kuat potensi cahaya langit yang bisa dimanfaatkan. Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat dibagi dalam 3 (tiga) komponen :
1. Komponen langit.
2. Komponen refleksi luar
3. Komponen refleksi dalam
Dari ketiga komponen tersebut komponen langit memberikan bagian terbesar pada tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada bidang kerja tersebut adalah :
1. Luas dan posisi lubang cahaya.
2. Lebar teritis
3. Penghalang yang ada dimuka lubang cahaya
4. Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan.
5. Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya.
Untuk bangunan berlantai banyak makin tinggi makin berkurang pula kemungkinan adanya penghalang di muka lubang cahaya. Dari penelitain yang dilakukan, baik pada model bangunan dalam langit buatan, maupun pada rumah sederhana, faktor penerangan siang hari
rata-rata 20% dapat diperoleh dengan lubang cahaya 15% dari luas lantai, dengan catatan posisi lubang cahaya di dinding, pada ketinggian normal pada langit, lebar sekitar 1 meter, faktor refleksi cahaya rata-rata dari permukaan dalam ruang sekitar 50% – 60% tidak ada penghalang dimuka lubang dan kaca penutup adalah kaca bening


Desain rumah tropis bekerja menuju satu tujuan utama dasar: tinggal nyaman tanpa bergantung pada AC. Hal ini dilakukan dengan moderasi dari tiga variabel: temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara. Victor Olgay dalam bukunya, “Desain dengan Iklim”, mengembangkan garis panduan untuk arsitektur iklim responsif dalam empat daerah iklim yang berbeda, salah satunya adalah lingkungan tropis panas lembab. Merancang sebuah rumah pasif didinginkan dimulai dengan situs dan mencakup setiap aspek dari rumah sampai ke warna.

Source:
BANGUNAN ARSITEKTUR YANG RAMAH LINGKUNGAN
MENURUT KONSEP ARSITEKTUR TROPIS
Di Susun Oleh : AHMAD NIDLOM, 2001




Kamis, 16 Mei 2013

Profesionalisme Arkeologi Masyarakat Trowulan



Oleh Tjahja Tribinuka, MT
Staff pengajar Jurusan Arsitektur ITS
Diterbitkan di harian Surabaya Post

Terdapat banyak alasan yang mendasari sebuah kegiatan konservasi dari karya arsitektur. Kepentingan terhadap penelitian lanjutan yang mengindikasikan perkembangan ilmu tertentu adalah salah satu alasan betapa pentingnya karya arsitektur sebagai sebuah model riset. Namun demikian, kebanyakan karya yang berusia tua sudah tidak lengkap lagi bagian-bagiannya karena lapuk dimakan jaman. Menyikapi karya yang demikian membutuhkan telaah yang cukup mendalam disertai pertimbangan kepentingan berbagai segi ilmu. Sebagai contoh, sebuah bangunan yang runtuh sebagian dapat menjadi pelajaran bahwa sistem  konstruksi tertentu memiliki ketidak-tepatan dalam pengujian antara stabilitas struktur dan berjalannya waktu.
Masyarakat lampau nusantara juga telah belajar dari arsitektur dari masa yang telah mendahuluinya. Relief candi Borobudur abad ke 8 memiliki bentuk yang cukup tajam, namun didapati bahwa ada beberapa bentuk hidung manusia yang patah. Selanjutnya relief candi Penataran pada abad ke 13 terlihat lebih datar, bentuk manusia menghadap ke samping sehingga hidung tidak perlu terpahat menonjol. Andai saja relief manusia di candi Borobudur diperbaiki hidungnya, maka kita tidak akan dapat melihat kesalahan dalam teknik pembuatan relief batu. Beberapa contoh pada tulisan selanjutnya akan mengambil contoh candi-candi di masa kejayaan kerajaan Majapahit di Trowulan.
Sebuah kegiatan konservasi yang dilakukan pada Candi Wringin Lawang, Trowulan, Mojokerto juga memerlukan kritik dan pertimbangan. Maksud baik untuk membuat replika salah satu sisi bentuk candi bentar yang runtuh, justru membuat kelemahan bagi penelitian konstruksi bata ekspos. Bentuk raksasa susunan batu bata yang terlalu ramping ternyata tidak demikian awet, namun jika pengunjung situs tidak terlalu awas, akan menganggap bahwa sistem ini tetap benar. Selayaknya rekonstruksi candi bentar dapat dilakukan dengan sistem kuno yang sama. Jika tidak mampu dilaksanakan barulah dibuat dengan konstruksi modern namun di lokasi yang lain, agar tetap terlihat mana yang otentik dan mana yang imitasi.

Gambar 2a. Candi Wringin Lawang di Trowulan, ketika ditemukan salah satu bagian sisi candinya roboh dan tinggal separuh. Kegiatan konservasi mengembalikan situs candi bentar ini utuh dua-duanya, dalam jangka waktu tertentu akan sulit dibedakan mana batu yang asli dan mana yang tambahan
Jika memang bentuk utuh yang dikejar, selayaknya penambahan baru dilaksanakan dengan membuat material yang lain. Misalnya dengan melengkapi konstruksi batu bata dengan bentuk yang sama, namun materialnya berbeda seperti beton, aspal dan lain-lain. Contoh lain menunjukkan kegiatan positif walau tanpa konsep seperti yang telah dijabarkan. Ada bagian kegiatan renovasi di Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto yang dilakukan untuk memperkuat konstruksi rongga atas candi. Caranya dengan membuat cetakan benton bertulang, yang sampai sekarang masih terlihat sebagai benda tambahan, bukan asli.
resize-of-2b
Gambar 2b. Detail Candi Brahu di Trowulan, tambahan elemen konstruksi benton bertulang untuk memperkuat bagian atas rongga candi dibiarkan terlihat jelas. Membedakan mana konstruksi kuno dan konstruksi modern untuk tujuan konservasi. Beruntung beton bertulang ini tidak ditutupi kamoflase batu bata hingga mengaburkan keotentikan candi.
Konservasi merupakan kegiatan penting yang penuh aturan. Aturan tersebut selain didasarkan pada jenis obyek, juga pada kepentingan ilmu dan tingkat kerusakannya. Contoh lain adalah keberadaan candi yang tidak populer di daerah Watesumpak Mojokerto. Situs tersebut demikian mempriharinkan, yang tertinggal hanya seonggok tangga candi, lengkap dengan ukirannya. Pemerintah sudah tidak lagi mempedulikannya dan masyarakat justru mengelolanya untuk kepentingan pribadi lain. Di atas situs tersebut dijadikan makam keramat, pengunjung yang datang harus membayar untuk mengunjunginya. Penyelewengan seperti ini merupakan kejahatan yang sudah jelas ancaman hukumannya, namun tidak dijalankan.
resize-of-2c
Gambar 2c. Candi yang sudah rusak di Watesumpak, Mojokerto. Susunan batu bata purbakala sudah tertimbun tanah dan rerumputan. Di bagian atasnya ditanami pohon dan dijadikan makam keramat.
Biaya konservasi dan perawatannya memang selalu menjadi kendala. Tidak berhenti dari masalah ini, bahkan masyarakat yang memang sudah miskin berlomba-lomba memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Jelas bahwa kesadaran terhadap perlunya konservasi akan bertabrakan dengan kepentingan ekonomi. Walau demikian, tidaklah salah jika harapan mewujudkan cara mengkonservasi yang benar masih tetap diperjuangkan. Pelaksanaan program yang tidak melulu dari pusat pemerintah (top down) dapat dialihkan dengan program yang berasal masyarakat (bottom up). Bagaimanapun, sebuah situs bersejarah pasti memiliki potensi sebagai sarana pendidikan dan wisata yang dapat mendatangkan dana perawatan.
Masyarakat Trowulan bisa jadi masih mewarisi keahlian kriya masa lampau, di mana saat ini masih menjadi perajin ukir batu dan pengecoran logam. Pembinaan yang tepat dari lembaga yang terkait mengenai corak bentuk hasil kriya disertai pemasaran yang optimal hampir pasti akan membuat perubahan iklim ekonomi mikro di Trowulan. Para pembuat batu-bata yang hasilnya di jual murah dapat dialihkan dengan pembuat gerabah seni dalam konteks kerajaan Majapahit. Peranan Lembaga Swadaya Masyarakat yang dapat langsung menyentuh kehidupan keseharian masyarakat di sekitar situs bersejarah perlu diberdayakan dengan lebih baik lagi.

Kamis, 09 Mei 2013

Kiat Membangun Taman Diatas Atap (Roof Garden)


Pemanasan global atau global warming, memang menjadi salah satu masalah populer masyarakat dunia. Hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan menekan efek dari pemanasan global itu sendiri. Salah satunya adalah dengan menggunakan roof garden. Lalu apa itu sebenarnya roof garden ? Jika kita artikan dari bahasanya adalah "taman atap". Roof Garden dapat berupa tanaman yang terletak di atap sebuah bangunan, atau diletakkan di pot begitu saja.
Pembuatan taman diatas atap (roof garden) memang tidak murah dan membutuhkan struktur dan konstruksi atap yang spesifik. Bahkan untuk hasil yang optimal, konstruksi atap untuk taman didesain sejak awal, sebelum gedung itu dibangun. Namun investasi ini bisa kembali dalam beberapa tahun kemudian, karena biaya untuk listrik pendingin udara berkurang, serta nilai ekonomis bangunan bertambah.
Sebuah rumah sakit swasta di Singapura berhasil menurunkan konsumsi listrik sampai 50 persen, setelah membuat taman diatas atap (roof garden). Meskipun taman atap itu hanya berupa tanaman tomat, yang diletakkan di dalam pot menutupi seluruh atap. Keuntungan lain, rumah sakit itu tidak perlu membeli tomat lagi.
Selain menambah keteduhan, taman diatas atap (roof garden) juga bisa dimanfaatkan untuk menyerap gas-gas beracun. Misalnya bambu atau palem dapat menyerap gas formalin dan bensin. Sedangkan tanaman bakung, selain menyerap gas formalin dan bensin, juga menyerap alkohol dan aseton yang dihasilkan cat dan sebagainya. Tanaman rambat juga berfungsi untuk menyerap gas asetat, amonia, dan gas lainnya. Karena fungsi ini, tanaman rambat banyak dipakai untuk taman diatas atap (roof garden) di luar negeri seperti Singapura dan Jepang.
Cara Membangun Taman Diatas Atap
Sebelum membuat taman di atas gedung, pertimbangkan dulu konstruksi atap bangunan. Apakah memang didesain untuk mendukung beban media tanam berupa tanah dan pepohonan yang akan ditanam di atasnya atau tidak. Pasalnya, taman diatas atap (roof garden) harus didukung struktur dan konstruksi atap yang kuat.

Keberadaan taman diatas atap (roof garden) akan menimbulkan bertambahnya beban. Timbunan tanah dan tanaman akan menambah beban mati, beban angin, dan tambahan beban air pada atap bangunan. Gedung tersebut harus memiliki sistem drainase yang berfungsi baik.
Jika jenis tanaman perdu yang akan ditanam, dia memperhitungkan beban atap akan bertambah sekitar 650 Kg/m2. Ditambah lagi untuk beban hidup sesuai aktivitas pada taman atap itu. Misalnya, 400 Kg/m2 untuk olahraga, 500 Kg/m2 untuk pesta dan dansa, serta 250 Kg/m2 untuk restoran.
Untuk menanam pohon berukuran besar, pelat lantai lokasi harus didukung kolom struktural agar pelat beton tidak runtuh. Selain itu, perlu dibuat dinding penahan tanah karena pohon memerlukan ketebalan tanah yang cukup, atau membuat lubang pada atap bangunan, di bawah pohon.

Konstruksi atap rawan kebocoran, sehingga harus dilengkapi saluran pembuangan air. Lapisan drainase seperti kerikil, pasir, dan batu apung perlu ditambahkan agar air mudah mengalir ke lubang saluran pembuangan. Filter terbuat dari geo textile atau ijuk berfungsi mengalirkan air ke bawah tetapi menahan butiran tanah agar tidak menyumbat lubang pembuangan.
Untuk mencegah kerusakan lapisan kedap air (water proof layer), lapisan penahan harus ditambah agar akar tanaman tidak merusak lapisan kedap air dan beton di bawahnya.
Karena tanaman diatas atap terkena sinar matahari secara langsung dan tiupan angin yang lebih kencang, penyiraman harus dilakukan secara berkala. Sehingga perlu penyemprotan air bisa dilakukan secara manual atau otomatis.
Untuk media tanam, formulanya harus ringan namun memiliki kemampuan menyediakan zat hara dan kelembaban. Misalnya, dengan mencampurkan pasir dengan serutan kayu ditambah lapisan kulit pinus serta pupuk. Kedalaman media tanam untuk rumput membutuhkan 20 sampai 30 sentimeter, begitu juga tanaman penutup. Sementara itu, semak dan pohon kecil membutuhkan kedalaman 60-105 sentimeter. Pohon besar perlu kedalaman hampir 2 meter.

sumber : Architectaria , Studioarchitect