Arsitek Bagi Manusia

Setiap manusia adalah arsitek dari masa depannya sendiri –Sallust

Keep Moving Forward

Jangan terlalu bergantung pada orang lain. faktanya kamu lebih kuat dari apa yg kamu pikirkan, hanya kamu tidak mempercayainya

Rendah Hati

Instropeksi terhadap diri sendiri itu memang perlu, tapi tak harus menyalahkan diri sendiri,maafkanlah diri sendiri dan merubahnya untuk menjadi lebih baik

Rendah Hati, bukan Rendah Diri

Jangan jadi orang yang congkak. Pastikanlah bahwa kepala Anda tidak lebih tinggi dari topi Anda.

Kesuksesan Ada Ditangan Saya

Meter demi meter kesuksesan itu sulit, tetapi senti demi senti kesuksesan itu dapat diraih dan sangat mudah :D

Tampilkan postingan dengan label Arsitektur Tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsitektur Tradisional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Sejarah dan Topografi Kampung Naga di Tasikmalaya


 Jangan berfikir anda akan menemukan seekor naga di kampung ini, karena Kampung Naga adalah sebuah perkampungan yang terletak di jalan poros kota Tasikmalaya dan Bandung melalui Garut. Walaupun letaknya hampir mendekati kota, namun penduduk Kampung Naga memegang teguh dan selalu menjaga adat yang ada di Kampung Naga. Rumah serta bangunan-bangunan lain yang terdapat di Kampung Naga masih sangat tradisional, yakni atap rumah masih menggunakan daun rumbia atau ijuk, untuk dinding-dinding atau bagian bangunan yang lain menggunakan anyaman bambu atau bilik. Untuk berkunjung ke tempat ini apabila anda dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya anda harus menuruni tangga menuju ke tepi sungai Ciwulan. Kemudian menuju jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai masuk ke dalam perkampungan Kampung Naga

SEJARAH
Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor". Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956.
Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi.



LOKASI DAN TOPOGRAFI
Kampung ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda : sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.
Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.
sourc : id.wikipedia.org dan www.tripadvisor.co.id

Selasa, 21 Mei 2013

Sasono Mulyo , Salah Satu Ndalem Dikeraton Surakarta yang Sering Digunakan untuk Pertunjukan Wayang Kulit


NAMA
Sasana Mulya atau Sasana Moelja menurut ejaan lama yang terdapat di regol sebelah kanan.
ALAMAT
Kecamatan Baluwarti, Surakarta
Terletak di dalam wilayah Kraton Surakarta, sebelah barat Pintu Gapit, sebelah utara Bangsal Kemandungan
 
FUNGSI BANGUNAN
Sebelum Tragedi 1965
Merupakan kediaman resmi putra mahkota Kasunanan Surakarta. Kompleks Sasono Mulyo terdiri atas bangunan induk yang ditinggali oleh putera mahkota dan bangunan tambahan di sepanjang sisi timurnya yang merupakan tempat para abdi dalem (pelayan) yang mengurus kebutuhan sehari-hari putera mahkota. Di bagian depan bangunan induk terdapat pendopo (serambi) berukuran kurang lebih 37,5x25 meter persegi.
 
 
Saat Tragedi 1965
Sejak 1 Desember 1965 sampai 30 Mei 1967, Sasono Mulyo menjadi kamp penampungan para tapol laki-laki. Penguasa militer menempatkan para tapol di dalam maupun di pendopo bangunan induk. Penguasa militer membangun sekat-sekat di ruangan pendopo menggunakan gedeg (dinding dari anyaman bambu). Untuk pengamanan, jalur keluar-masuk kamp dipagari kawat berduri. Sejak awal 1967 tapol di Kamp Sasana Mulya dipindahkan secara bergelombang ke tempat-tempat penahanan lain.
 
Sekarang
Sasono Mulyo kabarnya sering disewakan sebagai tempat menyelenggarakan hajatan, seperti acara perkawinan.
 

 
PENGUASA TEMPAT PENAHANAN
Penguasa (Penjaga) Kamp Sasono Mulyo adalah pihak militer. Penguasa kamp pada awalnya adalah pasukan Siaga dari Brigif IV yang bermarkas di Tegal yang setiap minggu bergantian jaga dengan pasukan AURI dari Panasan, dibantu oleh Mahasura (Resimen Mahasiswa Surakarta – terdiri atas dua batalyon yang umumnya terdiri atas anggota-anggota HMI). Namun pada 20 Februari 1967 terjadi pergantian dari tentara Siaga kepada Kodim dan CPM Surakarta. Pasukan Siaga sendiri diperintahkan untuk melancarkan operasi pembersihan teritorial ke kampung-kampung; untuk membersihkan dari unsur kiri.
 
Militer juga sempat mempekerjakan narapidana criminal untuk mengurus kunjungan keluarga untuk tapol, termasuk mengatur penerimaan dan pemberian kiriman makanan dan barang-barang kebutuhan hidup lain dari keluarga tapol. Namun karena tapol melakukan protes akibat kiriman keluarga yang sering tidak sampai atau sudah dikurangi isinya, dan juga karena para narapidana criminal yang diperbantukan mengambil kesempatan untuk melarikan diri, maka urusan tersebut kemudian diserahkan kepada para tapol sendiri. Pihak penguasa kamp juga melibatkan para tapol sebagai pengurus kamp (mengurus administrasi, kunjungan keluarga, penerimaan dan pemberian kiriman).
 
 
TAPOL
Seluruh tapol yang ditahan di Kamp Sasono Mulyo adalah laki-laki yang mungkin dipandang penguasa militer sebagai bukan tokoh organisasi ‘Kiri’. Pada 9 Maret 1966, berdasarkan catatan tata usaha kamp, jumlah tapol yang ditahan di tempat itu adalah 1.931 orang. Mereka dibagi dalam 33 kelompok.
 
PENYIKSAAN DI DALAM TAHANAN
1. Tapol Sasana Mulya seringkali di-bon untuk diinterogasi dan disiksa di tempat lain, misalnya di Balaikota.
 
2. Penghilangan paksa:
a.    Penghilangan paksa terhadap 71 tapol atau yang dikenal dengan Peristiwa 71. Pada Maret 1966, 71 tapol dari Kamp Sasana Mulya, termasuk Purwadi (guru) dan ayahnya, Hadi Kartono, L. Suparman, Sukarman, Nurman, Sampir, dan Suparin (dua yang terakhir sempat menjadi ketua kamp) di-bon dan tidak pernah kembali. Mereka diperintahkan untuk membawa seluruh barang-barangnya kemudian dibawa pergi dengan truk ‘piket’ (penguasa militer mewajibkan para pengusaha di Solo untuk meminjamkan kendaraannya untuk kebutuhan militer secara bergilir) swasta bertutup (seperti tenda). Menurut keterangan penguasa kamp, tapol-tapol tersebut dipindahkan ke tempat lain karena menderita penyakit menular. Akan tetapi banyak diantara mereka yang menurut sesame tapol Sasono Mulyo sama sekali sehat. Beberapa waktu kemudian, ketua Teperca Surakarta, Letda Agus dari Detasemen Pomad Surakarta, mengumumkan secara resmi bahwa ke-71 tapol tersebut diambil karena dibutuhkan pemerintah. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang hal itu.
b.    Penghilangan paksa terhadap Atmomuhardjo, tukang penatu, dan Tjiptorahardjo, pegawai koperasi kelurahan.
 
3. Kerja paksa:
a.  Sekitar 200 tapol (4 truk) dari Sasono Mulya dan LP Surakarta dipekerjakan paksa untuk memperbaiki tanggul Bengawan Solo yang jebol selama 2-3 minggu. Mereka dibagi dalam empat regu kerja yang dipimpin oleh militer bekerja secara bergiliran untuk mengambil dan mengangkut tanah sejauh 8 km untuk menambal Setiap berangkat ke lokasi kerja tapol yang hanya bercawat harus berlari-lari sambil bernyanyi "Ajun Kampret". Para tapol yang dipekerjakan paksa tidak diberi makan. Makan mereka tetap ditanggung keluarga.
b. Selain 200 tapol ini, sejumlah tapol lain diperintahkan membersihkan pasar-pasar, gedung-gedung instansi pemerintah maupun militer.
c.  Ada tapol yang di-bon untuk dipekerjakan paksa sebagai pelayan Teperca/Timperban
 
4. Fasilitas hidup di bawah standar minimum:
a.  Jatah makanan semula nasi bungkus yang diberikan dua kali sehari. Tapi kemudian menu berubah menjadi bulgur. Oleh karena itu tapol terpaksa mengandalkan kiriman makanan dari rumah. Namun kadang kala kiriman makanan tidak sampai ke tangan para tapol. Oleh karena itu, para tapol mendesak penguasa kamp agar mereka boleh mengurus sendiri penerimaan dan pemberian kiriman dari keluarga. Permintaan ini diluluskan oleh penguasa kamp.
b. Luas kamp tidak sebanding dengan jumlah tahanan sehingga mereka harus tidur berdesak-desakan. Jika hujan deras, bangunan Sasono Mulyo yang tidak terawat itu selalu bocor. Akibatnya banyak tapol yang jatuh sakit.
c.  Penguasa kamp tidak menyediakan alas tidur bagi para tapol. Oleh karena itu mereka terpaksa menggunakan koran, plastik, atau daun bekas pembungkus makanan agar tidak langsung bersentuhan dengan lantai ubin.
d. Mungkin hingga sekitar Januari 1966, penguasa Kamp Sasana Mulya masih mengupayakan obat-obatan bagi tapol yang sakit bahkan mengirimkan mereka yang sakit parah ke rumah sakit. Namun setelah itu, para tapol yang sakit dibiarkan begitu saja tanpa layanan kesehatan sama sekali.
e.  Tapol hanya boleh dikunjungi keluarga selama tujuh menit setiap kali pertemuan di bawah pengawasan penguasa kamp.
 
 
(sasono mulyo dari sebelah timur)

 (tumpang sari di pendapa sasono mulyo)

 (pringgitan sasono mulyo, berfungsi menjadi penghubung antara pendopo dengan ndalem omah)


 
Sumber
Erlijna, Th. J. “Jurnal Lokakarya Pemetaan Kekerasan dalam Tragedi 1965 di Solo, 20-26 Juni 2006”. Juni 2006
Lingkar Tutur Perempuan. “Kronik Tragedi 1965 di Solo”. Oktober 2006
Pakorba Solo. “Kronik Tragedi 1965 di Solo”. Agustus 2006
Setiawan, Hersri. Kidung untuk Korban (Yogyakarta: Pustaka Pelajar kerja sama dengan Pakorba-Solo dan YSIK, Juli 2006)

Kamis, 16 Mei 2013

Profesionalisme Arkeologi Masyarakat Trowulan



Oleh Tjahja Tribinuka, MT
Staff pengajar Jurusan Arsitektur ITS
Diterbitkan di harian Surabaya Post

Terdapat banyak alasan yang mendasari sebuah kegiatan konservasi dari karya arsitektur. Kepentingan terhadap penelitian lanjutan yang mengindikasikan perkembangan ilmu tertentu adalah salah satu alasan betapa pentingnya karya arsitektur sebagai sebuah model riset. Namun demikian, kebanyakan karya yang berusia tua sudah tidak lengkap lagi bagian-bagiannya karena lapuk dimakan jaman. Menyikapi karya yang demikian membutuhkan telaah yang cukup mendalam disertai pertimbangan kepentingan berbagai segi ilmu. Sebagai contoh, sebuah bangunan yang runtuh sebagian dapat menjadi pelajaran bahwa sistem  konstruksi tertentu memiliki ketidak-tepatan dalam pengujian antara stabilitas struktur dan berjalannya waktu.
Masyarakat lampau nusantara juga telah belajar dari arsitektur dari masa yang telah mendahuluinya. Relief candi Borobudur abad ke 8 memiliki bentuk yang cukup tajam, namun didapati bahwa ada beberapa bentuk hidung manusia yang patah. Selanjutnya relief candi Penataran pada abad ke 13 terlihat lebih datar, bentuk manusia menghadap ke samping sehingga hidung tidak perlu terpahat menonjol. Andai saja relief manusia di candi Borobudur diperbaiki hidungnya, maka kita tidak akan dapat melihat kesalahan dalam teknik pembuatan relief batu. Beberapa contoh pada tulisan selanjutnya akan mengambil contoh candi-candi di masa kejayaan kerajaan Majapahit di Trowulan.
Sebuah kegiatan konservasi yang dilakukan pada Candi Wringin Lawang, Trowulan, Mojokerto juga memerlukan kritik dan pertimbangan. Maksud baik untuk membuat replika salah satu sisi bentuk candi bentar yang runtuh, justru membuat kelemahan bagi penelitian konstruksi bata ekspos. Bentuk raksasa susunan batu bata yang terlalu ramping ternyata tidak demikian awet, namun jika pengunjung situs tidak terlalu awas, akan menganggap bahwa sistem ini tetap benar. Selayaknya rekonstruksi candi bentar dapat dilakukan dengan sistem kuno yang sama. Jika tidak mampu dilaksanakan barulah dibuat dengan konstruksi modern namun di lokasi yang lain, agar tetap terlihat mana yang otentik dan mana yang imitasi.

Gambar 2a. Candi Wringin Lawang di Trowulan, ketika ditemukan salah satu bagian sisi candinya roboh dan tinggal separuh. Kegiatan konservasi mengembalikan situs candi bentar ini utuh dua-duanya, dalam jangka waktu tertentu akan sulit dibedakan mana batu yang asli dan mana yang tambahan
Jika memang bentuk utuh yang dikejar, selayaknya penambahan baru dilaksanakan dengan membuat material yang lain. Misalnya dengan melengkapi konstruksi batu bata dengan bentuk yang sama, namun materialnya berbeda seperti beton, aspal dan lain-lain. Contoh lain menunjukkan kegiatan positif walau tanpa konsep seperti yang telah dijabarkan. Ada bagian kegiatan renovasi di Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto yang dilakukan untuk memperkuat konstruksi rongga atas candi. Caranya dengan membuat cetakan benton bertulang, yang sampai sekarang masih terlihat sebagai benda tambahan, bukan asli.
resize-of-2b
Gambar 2b. Detail Candi Brahu di Trowulan, tambahan elemen konstruksi benton bertulang untuk memperkuat bagian atas rongga candi dibiarkan terlihat jelas. Membedakan mana konstruksi kuno dan konstruksi modern untuk tujuan konservasi. Beruntung beton bertulang ini tidak ditutupi kamoflase batu bata hingga mengaburkan keotentikan candi.
Konservasi merupakan kegiatan penting yang penuh aturan. Aturan tersebut selain didasarkan pada jenis obyek, juga pada kepentingan ilmu dan tingkat kerusakannya. Contoh lain adalah keberadaan candi yang tidak populer di daerah Watesumpak Mojokerto. Situs tersebut demikian mempriharinkan, yang tertinggal hanya seonggok tangga candi, lengkap dengan ukirannya. Pemerintah sudah tidak lagi mempedulikannya dan masyarakat justru mengelolanya untuk kepentingan pribadi lain. Di atas situs tersebut dijadikan makam keramat, pengunjung yang datang harus membayar untuk mengunjunginya. Penyelewengan seperti ini merupakan kejahatan yang sudah jelas ancaman hukumannya, namun tidak dijalankan.
resize-of-2c
Gambar 2c. Candi yang sudah rusak di Watesumpak, Mojokerto. Susunan batu bata purbakala sudah tertimbun tanah dan rerumputan. Di bagian atasnya ditanami pohon dan dijadikan makam keramat.
Biaya konservasi dan perawatannya memang selalu menjadi kendala. Tidak berhenti dari masalah ini, bahkan masyarakat yang memang sudah miskin berlomba-lomba memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Jelas bahwa kesadaran terhadap perlunya konservasi akan bertabrakan dengan kepentingan ekonomi. Walau demikian, tidaklah salah jika harapan mewujudkan cara mengkonservasi yang benar masih tetap diperjuangkan. Pelaksanaan program yang tidak melulu dari pusat pemerintah (top down) dapat dialihkan dengan program yang berasal masyarakat (bottom up). Bagaimanapun, sebuah situs bersejarah pasti memiliki potensi sebagai sarana pendidikan dan wisata yang dapat mendatangkan dana perawatan.
Masyarakat Trowulan bisa jadi masih mewarisi keahlian kriya masa lampau, di mana saat ini masih menjadi perajin ukir batu dan pengecoran logam. Pembinaan yang tepat dari lembaga yang terkait mengenai corak bentuk hasil kriya disertai pemasaran yang optimal hampir pasti akan membuat perubahan iklim ekonomi mikro di Trowulan. Para pembuat batu-bata yang hasilnya di jual murah dapat dialihkan dengan pembuat gerabah seni dalam konteks kerajaan Majapahit. Peranan Lembaga Swadaya Masyarakat yang dapat langsung menyentuh kehidupan keseharian masyarakat di sekitar situs bersejarah perlu diberdayakan dengan lebih baik lagi.